Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Maret 2013

Anak pinggiran


Anak pinggiran


Ditulis dari curhat temanku selagi aliyah, bertutur setelah 23 tahun berlalu perjalanan pahit hidupnya dimasa kecil karena keadaan ekonomi orang tuanya yang sangat kekurangan lalu ibunya meninggal ketika dia baru masuk sekolah dasar.

Ayah tercintanya tidak mampu menyekolahkannya walau hanya sekolah dasar, sebutlah si anak ini hasan namanya, hasan benar-benar merasa bingung karena didalam jiwanya berkecamuk rasa ingin sekolah seperti anak-anak yang lain, hasan berpikir kerja apa saja boleh yang penting bisa mebuat dia  sekolah, maka Allah Swt membimbingnya sehingga ia terpikir untuk mencari orang tua angkat walau dia akan dijadikan pembantu dia sangat siap, sing penting dipikirannya dia bisa makan dan bisa sekolah

Maka dia menemui bapak juru tulis desa yang cukup kaya di kampungnya agar bersedia mempekerjakannya walau dia dijadikan pembantu dirumah sang juru tulis,  hasan sangat merasa senang yang penting dia bisa makan dan bisa sekolah.

Rupanya bapak juru tulis desa ini berbaik hati menerima hasan bekerja di rumahnya sebagai pembantu di rumahnya dengan kesepkatan hasan  akan dicukupi kebutuhannya dan akan disekolahkan.

Maka hasan sangat kegirangan dengan kebaikan bapak juru tulis desa itu, sangat sungguh-sungguhlah hasan bekerja di rumah bapak ulis ini agar dirinya bisa disayangi oleh majikannya.

Melihat kerajinan hasan maka bapk ulis ini sangat sayang pada hasan maka sampailah hasan tamat sekolah dasar maka bapak ulis ini menawarkan hasan untuk melanjutkan sekolah menengah pertama menemani anak pertamanya yang bernama wawan sama-sama akan masuk sekolah menengah pertama dengan sarat hasan harus melayani anak pertama bapak ulis, seperti mencuci bajunya, memasak makananya,termasuk menemani belajarnya.

Terjadilah kesepakatan antara bapak ulis sengan hasan, sekolah menengah pertama yang akan mereka tuju sungguh sangat jauh dari desanya memerlukan waktu 6 jam lama perjalan dengan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, naik gunung turun gunung lokasi kecamatan yang akan hasan bersama anak majikannya tempuh.

Hasan dan anak majikannya dititipkan oleh bapak ulis pada sudaranya yang tingal didekat sekolah menengah yang akan dimasuki oleh hasan dengan anak majikannya, sebutlah pa lili nama saudara majikan hasan, tinggalah hasan bersama wawan dirumah pak lili.

Mulailah hasan dan wawan menuntut ilmu di sekolah menengah pertama negri cisewu, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, sampailah hasan dan wawan pada semester pertama kls 1 smp.

Namun sunggguh malang sangat malang nasib hasan ketika pembagian raport hasan mendapat rangking ke tiga sedang wawan sang anak majikan mendapat rangkin ke tujuh belas, hal ini membuat berang sang bapak juru tulis desa yang tidak legowo menerima prestasi anaknya dibawah prestasi hasan.

Diputuslah semua biaya hasan termasuk biaya makannya, dan anaknya wawan dipindahkan tinggalnya dirumah neneknya yang beda kampung, putuslah hubungan hasan dengan bapak ulis desa itu, ditengah kebingungan maka pak lili tempat hasan tinggal merasa iba pada hasan yang terlantar, maka pak lili menawarkan hasan untuk tetap tingal di rumahnya dengan sarat harus sambil membantu pekerjaan pak lili, seperti menyabit rumput, mengambil kayu bakar dan lain sebagainya.

Dengan senang hati hasan menyambut tawaran pak lili dalam benaknya kerja apun juga dia bersedia selama yang mampu ia kerjakan sing penting bisa tetap sekolah, namun lagi-lagi ujian buaat hasan masih datang juga, pada kenaikan kelas hasan naik ke kls dua SMP, sepulang mencari kayu bakar pak lili  bercakap pada hasan bahwa beliau tidak sanggup membiayai hasan lagi dan hasan disuruh mencari majikan baru, dengan alasan pak lili banyak anaknya yang harus beliau sekolahkan.

Disaaat inilah hasan benar-benar merasa kebingungan, tinggal dirantau orang belum ada yang kenal bagaimana bisa mencari majikan dalam sekejap belum lagi bayaran sekolah masih nunggak, hasan benar-benar sangat bingung dalam jiwanya tetap berkecamuk rasa ingin sekolah, umur tiga belas tahun harus berpikir sedasat ini sungguh memilukan.

Hasan berpikir terus sambil mengemasi harta bendanya yang hanya satu wadah bekas kardus mie instan, hasan pikir aku akan pergi ke mesjid agung saja dan akan tinggal di mesjid agung cisewu , biarlah nanti akan kerja mengepel mesjid terus mudah-mudahan ada dermawan yang iba padaku, karena merasa bingung harus pergi kemana?

 Allah Swt memeberikan ujian pasti dengan jalan keluarnya, istri pak lili yaitu ibu lusi membantu mencarikan majikan buat hasan karena merasa iba pada hasan, maka ibu lusi berbicara pada saudaranya yang hanya punya anak satu dan  rumahnya tidak jauh dari rumah ibu lusi pak lili.

Saudara ibu lili bernama bapak rojak sangat baik hati beliaau menjemput hasan dirumah ibu lusi yang sudah bersiap siap mengemas pakainya, lalu pak rojak ini mengajak hasan untuk tinggal dirumahnya dengan persaratan yang sama seperti di majikan yang sudah-sudah, hasan harus membantu pekerjan dirumah bapak rojak, hasan sangat gembira dengan tawaran ini hari itu juga hasan pidah ke rumah bapak rojak.

Kurang lebih lima tahun hasan tingal di rumah bapak rojak sampai hasan tamat sekolahg aliyah [sekolah menengah atas ]. Hasan masih punya cita-cita ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, lalu dia belajar ternak ikan di selokan hingga hasan bisa menjual ikan, seiring berjalannya waktu dengan berganti tahun maka hasan punya sedikit modal lalu ia mencoba peruntungannya kekota dengan harapan dia bisa bejualan sambil kuliah.

Sampailah hasan di kota lalu ia mulai menjajakan dagangan orang, membantu menyapu dan mengepel di rumah orang untuk bekal mencari makan dan biaya kuliah, selesailah hasan menempuh sarjananya, maka ia pulang kampung dengan terlebih dahulu menjenguk pak lili yang konon kabarnya sedang sakit keras.

Setibanya hasan dirumah pak lili didapatinya pak lili sedang terbaring lemas tak berdaya karena penyakit yang dideritanya dalam usia lanjut, hasan menghampiri pak lili dan membelai pak lili yang telah sedikit banyak berjasa pada hasan, dalam kesedu sedanananya pak lili bertutur bahwa beliau berdosa pada hasan yang dulu telah menyuruhnya pergi dengan alasan  pak lili tidak sangggup lagi membantu hasan sekolah, beliau bilang semua itu hanyalah pemintaan pak juru tulis yang melarang pak lili untuk merawat hasan.

Namun hasan tenang-tenag saja mendengar penuturan pak lili, berselang seminggu kemudian pak lili meninggalkan dunia yang pana ini, hasan terngiang ucapan pak lili tentang pak ulis yang harus mengusirnya dari kediaman pak lili, tapi hasan berhati baik tidak ingin membalas  sikap pak ulis yang ditimpakan padanya, namun malah hasan beniat baik ingin membalas perbuatan pak ulis dengan kebaikan.

Maka terpikirlah oleh hasan untuk meminang anak pak ulis agar hasan bisa menyayangi anak pak ulis setulus hati yaitu adik wawan yang bernama dewi,

Jadilah hasan mempersunting dewi, demikianlah sikap hasan membalas kejelekan dengan kebaikan, siapapun yang telah mengurus kita walau dengan sangat kejamnya, ingatlah bahwa kita pernah makan melalui rijki yang allah titipkan pada orang yang mengasuh kita, ingatlah selalu kebaikan orang walau sekecil apapun, lupakan kesalahan orang  walau sebesar bukit tursina, semoga bisa berbening hati seperti hasan, amiiii….n.

Kini hasan sudah menjadi seorang guru dan peternak ikan yang sukses di kampungnya.

Senin, 18 Maret 2013

PRASANGKA



PRASANGKA

“Oke bye~” Dinda melambaikan tangannya pada Roy, teman lelaki yang berstatus tengah dekat dengannya akhir – akhir ini. Mereka baru aja selesai makan roti bakar bareng deket rumah Dinda. Katanya sih, sebagai ucapan terima kasih Dinda ke Roy karena udah mau nganterin pulang ke rumahnya yang jauh banget dari kampus mereka.

Mungkin bagi beberapa orang yang melihat mereka dekat sih ngga terlalu dipermasalahkan. Tapi, bagi Dinda, itu suatu masalah karena degupan jantungnya akhir – akhir ini berdetak di atas batas kenormalam kalau lagi dekat – dekat sama Roy.

Jatuh cinta?

Mungkin aja.

***

“Lo lagi deket ya Nda sama Roy?” Dinda tertegun sesaat, pertanyaan Rara –salah satu teman dekatnya di kelas- menohok hati banget. Dikiranya temannya yang satu ini ngga mempermasalahkan kedekatannya sama Roy seperti teman – temannya yang lain. Tapi nyatanya?

Blak – blakkan banget ni bocah nanyanya.

“Kelihatannya begitu ya?” Dinda berusaha untuk menutupi keterjekutannya dengan masang tampang polosnya. Rara cuma ngangguk aja sebelum akhirnya dia bergulat sama laptop Aulia yang lagi memplay film Hunger Game kesukaannya.

“Ra, gue mau break sama Niko.” Rara mempause film hunger gamenya. Kepalanya bergerak menghadap Dinda yang masang tampang lesu.

“Kenapa?” tanyanya pelan sambil menghadapkan tubuhnya ke Dinda.

“Gue capek, Ra. Skripsi dia ngga selesai – selesai.” Rara merubah wajahnya jadi serius. Ini emang cuma masalah cowok, tapi ngeliat air muka Dinda yang galau bikin dia gak tega untuk anggap masalah ini hal yang sepele.

“Coba ceritain ke gue lebih detail.” Dinda menghirup oksigen sebanyak – banyaknya kemudian membuangnya perlahan. Sekiranya dia udah tenang, mulailah dia bercerita tentang Niko, pacarnya yang kuliah di Bandung.

“Dia seenaknya aja pulang – pergi Jakarta – Bandung. Alasannya mau nyari buku buat referensi skripsinya di perpustakaan nasional di Jakarta. Tapi apa? Setiap ke Jakarta pasti langsung nongol di depan kampus kita. Gue tau sih dia berusaha nunjukkan kebaikan dan perhatiannya ke gue, ya kayak bantuin gue ngerjain tugas. Tapi Ra, gue kan udah gede. Udah mahasiswa! Masa masih diperlakukan kayak anak kecil gini?” dada Dinda naik turun. Emosi menyelimutinya. Rara bantu meredakannya dengan mengusap – usap lengan Dinda.

“Lo udah coba jelasin ke dia tentang semua itu?”

“Belum. Lo tau ‘kan? Setiap gue mau marah ke dia pasti dia buat sesuatu yang bikin gue seneng. Ya contohnya aja ngebawain gue coklat atau buatin gue bekal. Tapi Ra, gue juga mau berbuat baik ke dia. Gue mau kok nunggu dia sampai skripsinya selesai, bertahan sama dia walau jarak Jakarta – Bandung dan kita sibuk sama urusan masing – masing. Tapi ‘kan—“

“Oke oke gue ngerti itu kok Nda. Tapi ya mau gak mau lo harus omongin ini ke dia. Ngga bisa langsung minta break gitu aja.”

“Ehm iya. Nanti gue coba deh.” Mereka saling terdiam. Tapi akhirnya Rara kembali menyibukkan dirinya dengan film kesukaannya. Tapi, dia merasa agak resah liat gelagat Dinda yang sedari tadi liatin handphonenya terus.

“Sms-an sama Roy?”

“Eh?”

“Lo suka sama dia ya Nda?” Rara ngomongnnya ngga langsung natap ke Dinda, tapi buat Dinda itu menohok hatinya –lagi-. Temannya ini benar – benar ya.

“Kita cuma … teman dekat aja kok, hehe ...” Rara cuma pasang wajah datar aja nanggapin pengakuan Dinda. Toh kalau dihubungkan sama keinginan Dinda untuk break sama Niko dan status mereka yang Long Distance Relationship, Rara udah tau jawaban sebenarnya.

***

“Ra, gue mau cerita.” Rara menolehkan kepalanya ke samping. Ditatapnya wajah Anne sekilas sambil ngangguk kecil.

“Ini tentang— Roy.” Rara cukup terkejut dengar nama itu. Baru aja dia bahas itu cowok tadi sama Dinda. Eh sekarang bahas cowok itu lagi sama Anne.

Berasa ada yang aneh deh, pikirnya.

“Kenapa?”

“Akhir – akhir ini dia sering sms gue.” Anne ngutak – ngatik handphonenya sebelum menyodorkannya ke Rara. Gadis berjilbab simple itu mandang layar handphone Anne dengan tatapan horor.

“Dia nawarin ngejemput lo di Stasiun Manggarai?” Anne ngangguk kecil sambil masukkin handphonenya ke dalam saku celananya. Tapi Rara ngga puas cuma dengan sekali anggukan aja.

“Selain itu?”

“Ya intinya kita sering sms-an lah. Sama lo juga ‘kan?”

“Iya—“

—tapi ngga pernah sekali pun dia nawarin diri untuk jemput gue -_-, lanjutnya dalam hati.

“Dia kayaknya suka sama lo deh.” Celetuk Rara yang dijawab pelototan terkejut oleh Anne. Rara cuma bisa senyum miring. Ternyata perasaan anehnya itu karena ini toh.

“Haha ... ngga mungkin.” Rara ngga nanggepin, dia cuma diam aja sambil matanya melirik gelisah ke berbagai arah.

Yang di otaknya sekarang cuma tiga nama: Dinda, Roy, dan Anne.

***

Pi, lo jujur sama gue sekarang, lo suka sama siapa? Dinda atau Anne?

Rara mengutak – atik handphonenya sejak setengah jam lalu. Dari tadi, dia sms papi – papiannya si Roy untuk nanya kejelasan perasaan Roy ke dua temannya.

Buka blog gue deh. Lo baca satu cerita judulnya Love Story terus nanti lo bisa tau siapa yang gue suka.

Rara mendengus membaca balasan itu dari Roy. Papi gadungannya ini emang berotak jahil. Dia ikutan merasa dipermainkan sama cowok ini.

Tapi, karena penasaran dan Rara sayang banget sama dua temannya itu, jadi dia rela ngendap – ngendap nyuri modem anak tertua ketiga di rumah itu untuk online dan nge-blogging.

Setengah jam lewat dia ngutak – atik isi dari blog Roy. Ketemu sih ceritanya, tapi dia ngga ngerti.

Gue pake inisial doang. Itu bukan nama sebenarnya.

Rara mendengus lagi. Dia makin ngga ngerti sama papi gadungannya itu.

Apasih? Inisial?? Ayolah jelasin ke gue !!

Lamaaaa banget Rara nunggu balesan dari Roy, tengah malam dia baru ngerti.

Misal, nama asli lo ‘kan Rara. Nah gue cuma ngambil huruf R-nya doang. Nanti selanjutnya gue ubah jadi Rani, gitu.

Shock.

Mungkin itu gambaran kondisi Rara sekarang. Ternyata oh ternyata papi gadungannya itu suka sama Anngia yang berperan jadi Anne dicerita itu. Terus Dindanya ??

Gue cuma mau menjalin hubungan persahabatan aja. Ngga lebih.

Rara mengutuk dan menyumpah serapahi balasan pesan singkat dari Roy. Apa katanya? Menjalin hubungan persahabatan? Sampai nganterin Dinda pulang ke rumah, gitu?

***

“Gue udah break Ra sama Niko.” Rara mengelus punggung sahabatnya lembut. Mencoba memberi kekuatan. Walau perempuan berjilbab unik itu tidak menunjukkan air wajah yang mendung, tapi Rara tau kalau sahabatnya itu tengah bersedih.

“Ra, lo tau soal Anne sama Roy?”

“Eh?”

“Anne bilang sama gue kalau Roy semalem baru aja bilang suka ke dia.” Rara tertegun. Pikirannya ngga fokus. Dia ngga tahu mesti nanggepin kayak gimana ucapan Dinda.

“Tapi Ra, gue sama Roy udah janjian ketemuan di taman belakang kampus.”

“Eh?”

“Duluan ya.” Rara menatap bingung kepergian Dinda. Apa maksudnya? Rara ngga ngerti. Alurnya kenapa jadi berantakan kayak begini??

“Ra, mau nyusul Dinda ngga?” Rara mendongak, didapatinya Aulia berdiri manis di depannya, “Anne udah sering cerita soal ini ke gue. Dan gue rasa, akan ada air mata setelah ini.” Kepala Rara mendadak pusing. Aulia ini emang terkenal paling puitis diantara dua sahabatnya-Dinda dan Anne- yang lain. Tapi, ngomong – ngomong soal puitis, Rara sangat setuju dan ngga nganggep kalimat puitis itu masuk ke majas hiperbola.

“Ayo.”

***

“Udah lama Roy?” lelaki berkaca mata dengan tinggi lebih dari 170 cm itu mendongak menatap Dinda yang tengah berjalan menghampirinya. Ia hanya menggeleng sebagai jawaban kemudian menepuk tempat kosong di sebelahnya. Menyuruh Dinda duduk di sana.

“Diterima pernyataan cintanya sama Anne?”

“HAH?” Roy terkejut tapi Dinda justru tertawa. Tawa yang dipaksakan tapi tidak cukup membuat Roy menyadari bahwa ada kesedihan yang tersembunyi di balik tawa itu.

“Alah ngga usah kaget gitu deh. Cie yang baru jadian. PJ-nya bisa kali.”

“Apanya yang jadian. Gue ditolak sih iya.” Dinda langsung terdiam. Air mukanya langsung berubah sendu dan merasa bersalah.

“Sorry.”

“Ngga apa kok. Santai aja. Btw, lo ngajak ketemuan di sini ngapain dah? Di kelas ‘kan kita juga ketemu, hehe ...”

“Gue suka sama lo, Roy.”

“Eh?”

“Bercanda. Haha ...” Dinda tertawa terpaksa –lagi- tapi kali ini cukup membuat Roy peka bahwa ada raungan tangis di balik tawa itu.

“Sorry Din. Gue—“

“Santai aja lagi, hehe ...”

Tidak. Roy benci itu. Dia benci melihat seorang wanita menangis di haadapannya. Ditambah ini karenanya.

“Din—“

“Enak ya jadi Anne disukai banyak cowok. Bikin iri aja, hehe ...”

“....”

“Ah udah ngga apa – apa. Gue pulang duluan yak.” Dinda beranjak dari tempatnya. Senyum pilu yang berusaha ditutupinya tetap bisa terbaca oleh Roy. Tapi cowok itu bisa apa? Kalau dia mencegah Dinda untuk pergi, justru akan menambah luka Dinda semakin lebar.

“Sorry.” Lirihnya lagi.

***

Rara cuma bisa meluk Dinda. Aulia di sampingnya cuma bisa diam aja. Mereka ngga berkomentar apa – apa. Mereka cuma bisa diam sambil sesekali tangan mereka bergerak mengusap punggung Dinda. Bahkan Rara ngga peduli sama baju kesayangannya yang basah karena air mata Dinda.

Hampir satu jam berlalu, akhirnya tangisnya Dinda reda. Masih dalam keadaan mulut mengatup rapat, mereka keluar dari kamar mandi untuk pulang.

Sebenarnya, Rara bisa aja nonjok Roy, karena bisa dibilang dia udah mempermainkan perasaan dua temannya. Tapi, ngga sepenuhnya ini salah Roy. Terkadang, hati manusia ‘kan bisa keluar dari jalur seharusnya. Prasangka tiap manusia ‘kan berbeda – beda. Mungkin aja Roy emang cuma mau menjalin persahabatan sama Dinda, Anne, Rara, dan Aulia. Tapi dari anggapan ‘menjalin persahabatan’ itu bisa juga tercampur virus bernama cinta. Ya namanya juga prasangka, terkadang tepat terkadang ngga.

Untuk kasus Dinda, Rara bisa ambil pelajaran, boleh menjalin hubungan persahabatan sama siapa aja asal ada batasnya. Sebaiknya sih untuk yang cowok jangan asal nawarin diri untuk antar atau jemput seorang cewek kalau ngga mau ada hal serius ke cewek itu. Dan para kaum Adam harusnya bisa tau kalau hati cewek itu lebih sensitive ketimbang cowok yang lebih suka berpikir pakai logika.

END

PENS KONDEKTUR



PENS KONDEKTUR

Bak buk bak buk

Terdengar suara gaduh diselingi helaan napas pelan dari dua ruangan di sebuah rumah di kawasan Jakarta Pusat pagi itu. Helaan napas itu terdengar dari ruang dapur. Seorang wanita paruh baya menghela napasnya berkali – kali setiap mendengar bunyi ‘bak buk bak buk’ dari salah satu kamar di rumah itu.

“Rara, jangan berlari di dalam rumah!” Teriaknya sambil mengecilkan api dari kompor gasnya yang menyala.

“Aduh Ma, sepatu Rara dimana ya? Kok dirak sepatu di dekat pintu ngga ada ya?” bukannya menghentikan aktifitas ‘ayo lari di dalam rumah’nya, Rara malah menanyakan perihal sepatunya yang tiba – tiba tidak terlihat wujudnya.

“Makanya kalau libur itu jangan wasting time sama Renren terus, periksa kelengkapan barang – barang kamu.” Rara mendengus sebal, jawaban yang berupa ceramah singkat itu semakin menurunkan moodnya untuk semangat pergi kuliah pagi itu.

Udah kecape’an, semalam kurang tidur, alarm ngga bunyi, bangun telat, eh sekarang diceramahin Mama lagi -_-, gerutunya dalam hati sambil membenahi keperluannya untuk kuliah pagi ini.

“Udah ntar Mama bantu nyari, sekarang makan dulu gih.” Rara menggeleng, disambarnya dua tangkup roti tawar yang baru diolesi mentega itu lalu mengambil asal flat shoes miliknya kemudian berteriak pamitan pergi menuju kampus tercinta.

Buk

“Aw! Yak! Kak Rara!!!”

“Sorry.” teriaknya lantang setelah sukses menabrak adik bungsunya di depan pagar.

***

Rara menghentakkan kakinya kesal. Pasalnya, bus transjakarta yang menjadi kendaraan antar – jemputnya ke kampus belum terlihat semenjak sepuluh menit yang lalu. Parahnya, perjalanannya dari halte ke kampusnya memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit.

07.30

Mati gue, setengah jam lagi kelas dosen gila itu dimulai. Arrghh ... cepet dateng dong bus-nya.

Mulutnya mengerucut lucu, sesekali matanya bergerak melirik jarum – jarum tajam yang bergerak perlahan di dalam lingkaran jam tangannya.

Pes

Matanya langsung berbinar senang, kakinya sudah mulai melangkah maju lebih ke depan ketika bus yang telah lama ditunggunya kini berhenti tepat di hadapannya.

Pintu bergerak terbuka, beberapa orang dari dalam bus keluar. Setelahnya, Rara mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam bus, tapi—

Deg deg deg

Ya Allah, ini beneran kondekturnya? Ganteng bangeeeeettttttt !!!!

—Rara berdiam dalam posisi satu kaki masuk ke dalam bus dan satu lagi tertahan di pintu halte. Matanya berkilauan melihat seorang lelaki tinggi semampai dengan kulit putih yang wajahnya mirip VJ Daniel Mananta dengan rambut cepak pendek ditutupi oleh topi hitam dari perusahaan bus transakarta.

“Mbak jangan halangin jalan dong!” kilauan mata Rara berubah tajam. Mas – mas tua di belakangnya memaksanya untuk menghentikan kegiatan menatap kondektur ganteng bus transjakarta di depannya. Ia mendengus sebal sebelum akhirnya duduk di salah satu kursi di bagian bus khusus wanita.

***

“Pemberhentian berikutnya, halte Matraman—“ Rara ngga peduli dengan suara – suara aneh dari seorang wanita yang ntah berasal dari mana itu. Yang dipikarannya saat ini adalah siapa nama kondektur ganteng itu? Kok bisa sih cowok seganteng dia kerja jadi kondektur bus? Berapa umurnya? Udah punya pacar atau belum?

Rara terus berfantasi, bahkan ia melupakan waktu yang sudah menunjukkan pukul 8 lewat lima belas menit itu. Yang ada di otaknya cuma si kondektur ganteng ini doang.

Drtt drrtt ...

Rara mendengus –ntah untuk yang keberapa kalinya-, pesan singkat yang masuk ke handphonenya mengganggunya.

Nida calling

“Hallo?”

“Ra, di mana? Dosennya udah dateng nih.”

“Di bus.”

“Siapin lagu yak. Yang telat disuruh nyanyi.”

“HAH? Eh—maaf – maaf.” Rara membungkukkan sedikit badannya beberapa kali pada beberapa penumpang bus transjakarta yang menatap aneh terhadapnya. Kembali merutuki dirinya karena telah berbuat hal bodoh.

“Gak usah teriak gitu. Udah siapin aja satu lagu, okay?”

“Eh gila, lagu apaan?”

“Lagu korea aja, ah udah ya. Bye.”

“H-hei. Aish ..” Rara memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas. Sekarang otaknya sedang memutar beberapa lirik lagu yang sekiranya bisa ia nyanyikan nanti di depan kelas.

“Dam, sampai TU Gas aja ya.”

“Siap bos.”

Fokus Rara langsung buyar, tergantikan dengan wajah Mas Kondektur ganteng yang sedang berdiri di dekat pintu bus. Senyumnya langsung mengembang, semakin lebar dan mungkin deretan gigi yang tidak terlalu rapi miliknya terlihat.

ADAM

Oh.

Namanya Adam, ya?

“Pemberhentian selanjutnya, halte—“ Rara langsung beranjak dari tempat duduknya. Berjalan perlahan mendekat pada Adam. Matanya masih tak lepas dari nametag Adam kw VJ Daniel Mananta ini. Ingin sekali ia menyampirkan nametag lelaki di depannya ini untuk mengetahui nama panjangnya dengan jelas.

Kali aja nanti pas gue search facebook sama twitternya di google eh ketemu gitu, pikirnya dalam hati.

Kreek

Pintu bus terbuka, mengharuskannya berpisah dengan Adam dan menghadapi satu kesialan lain, menyanyi di depan kelas.

Tapi, senyum Rara tak pudar ketika mengingat hal itu. Bahkan menurutnya alarm—yang selalu ia pasang untuk membangunkannya- yang tidak kedengaran itu adalah suatu anugerah baginya.

“Bisa aja ‘kan justru kalau gue bangunnya kepagian eh malah ngga ketemu sama Mas Adam si kondektur ganteng itu?” ujarnya pada tiga temannya setelah mata kuliah Pendidikan Agama Islam selesai.

Nida, Dinda, dan Anne hanya mengangguk – angguk. Terkesan cuek walau mereka sempat mengatai Rara “GILA!!” karena terpesona oleh seorang kondektur bus transjakarta pada pandangan pertama.

“Oh Mas Adam, mulai detik ini, aku adalah pens muuuuuu ...” serunya riang sambil berputar – putar ngga jelas dengan mata terpejam dan tangan yang direntangkan.

Tak peduli dengan tatapan aneh penghuni kampus siang itu dan cibiran “gak kenal gak kenal” dari tiga temannya.

END

CINTA DIAM – DIAM



CINTA DIAM – DIAM

Suara petikan gitar dan tabuhan drum terdengar di salah satu studio musik di kawasan Jakarta Timur siang itu. Hari ini, Rina, Ardi, dan Tama melatih kemampuan mereka dalam dunia musik untuk mengikuti sebuah lomba yang dinamakan Blue Fest di kampus mereka dalam memperingati acara tahunan Fakultas Teknik.

Rina begitu bersemangat latihan hari ini, suaranya mendadak terdengar merdu banget. Mungkin karena salah satu teman lelaki yang –ehem- disukainya itu datang untuk ikutan menyemangati Tik Band –nama grup band mereka- latihan.

Sudah dua lagu yang ia lakukan dan lagu ketiga yang tengah dinyanyikannya akan menjadi penutup latihan hari ini.

“Lombanya lusa, besok kita ngga usah latihan. Pas hari H-nya aja kita latihan lagi tapi cuma latihan ringan. Gimana?” usul Ardi sang gitaris pada dua temannya, Rina dan Tama.

“Gue setuju. Lagipula, Rina mesti jaga suara juga. Jangan makan yang digoreng yak. Minum air putih anget aja. Awas lu kalau ngelanggar terus kita kalah, lu traktir kita, hehe ...” ancam Tama sambil terkekeh diakhir ucapannya.

“Haha ... iya Tamagochi.”

Dan latihan hari itu ditutup dengan lambaian tangan dari Rina karena bis yang biasa ia gunakan untuk pulang telah datang setelah mereka selesai membayar biaya penyewaan studio musik itu.

***

Rina menuruti peringatan Tama. Ia berhenti makan makanan yang digoreng dan tidak minum minuman yang bersuhu dingin. Rina sekarang makan yang serba direbus dan dikukus ditambah minum air putih anget. Terasa aneh dan menyebalkan memang, tapi demi kemenangan grup band dadakannya, ia rela ngelakuinnya.

Ikhlas gue .. ikhlas ... hadiahnya lumayan sih, hehe ....

Tapi, Tama ngga ngelarang Rina buat jalan – jalan ‘kan? Ntah memang sudah takdirnya atau itu hanya kebetulan, pengumuman pemenang lomba band itu akan diumumkan tepat tanggal 25 Januari. Hari dan tanggal yang sama dengan ulang tahun sang tambatan hati, Chandra. So’ di hari Sabtu siang ini, dia ngintilin Mamanya ke Mall untuk nemenin Mamanya belanja sambil sesekali matanya melirik barang – barang yang dikiranya pantas untuk diberikan ke Chandra sebagai hadiah ulang tahun.

“Ma, kalau ngasih hadiah ultah ke cowok tuh bagusnya ngasih apa ya?” Rina bertanya dengan muka polos yang disengajain. Ntah untuk apa dia ngelakuin itu. Yuni, mamanya, cuma bisa geleng – geleng kepala liat tampang polos anaknya. Mungkin Rina ngga mau terlalu kentara mengutarakan tujuan kenapa dia nanya hal itu ke dirinya.

“Kasih aja kemeja atau kaus berkerah. Emang yang ultah siapa? Temen kampus?”

“Iya, kita mau ngasih dia kejutan gitu terus aku yang disuruh beli hadiahnya.” Rina masih bertahan dengan wajah polosnya. Padahal sih, Yuni udah tau getaran suara anaknya waktu cerita soal kejutan dan hadiah itu.

Dasar anak muda jaman sekarang, gumamnya.

“Mama tau dimana toko yang jual kemeja dan kaus berkerah yang murah tapi berkualitas. Yuk ikut!” Rina hanya ngangguk kecil sebagai jawaban. Kaki – kakinya terus melangkah mengitari Mall Thamrin City yang ngga bisa dibilang kecil itu.

Kira – kira lima menit kemudian, Rina dan Mamanya udah sampai di depan sebuah toko yang menjual khusus kemeja dan kaus berkerah buat cewek dan cowok seumurannya. Matanya berkilauan lihat pakaian – pakaian murah tapi bagus itu.

“Udah pilih aja. Mama tunggu di sini ya.” Rina ngangguk paham. Dia ngebiarin Mamanya ngobrol sama mbak – mbak yang punya toko itu. Dirinya udah asyik milih beberapa kaus berkerah dan kemeja yang sekiranya cocok untuk tubuh tegap Chandra.

“Ma, kerenan yang mana, ya?” tanyanya sambil menunjukkan satu kemeja berwarna biru muda dengan garis – garis vertikal tipis warna biru dongker dan satu kaus berkerah dengan warna merah marun ditambah motif kotak – kotak hitam putih di bagian kerah sampai ke dada.

“Yang merah marun aja.” Rina memperhatikan pilihan Mamanya. Sedetik kemudian kaus berkerah yang dipegangnya sudah dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam kantung plastik bertuliskan nama toko tersebut.

“Makasih ya mbak.” Ucapnya riang setelah membayar dan menerima barang yang dibelinya.

“Udah sore nih, pulang yuk.” Ajak Mamanya yang disetujui Rina.

***

Rina menyamankan posisi mic-nya. Ini adalah hari dimana ia, Ardi, dan Tama mengeluarkan segenap kemampuan terakhir mereka untuk memukau para juri. Lombanya sih hari Minggu, tapi kampusnya ramai banget. Awalnya Rina santai, tapi melihat hampir 80% mahasiswa fakultasnya berkumpul di hadapannya itu membuat dia terpaksa merasakan yang namanya demam panggung. Ditambah lagi, Nia, Dina, Nanda, Lestari, dan teman kelasnya yang lain berteriak – teriak histeris menyerukan nama grup bandnya untuk memberinya semangat.

“Oke, langsung kita lihat aja perform dari peserta urutan kelima dari jurusan TIK, Tiiikk Baannnddd...”

“Aaaa .. Rinaaa ..”

“Tiiikk Baaannddd ....”

“Arddiiii ... Tamaaaa .....”

Petikan gitar Ardi mulai terdengar, disusul dengan tabuhan drum dari Tama. Rina memejamkan matanya untuk memasuki melodi yang mulai mengalun indah itu. Ia ingin grup band dadakannya ini menang. Hadiahnya lumayan sih, uang senilai 750 ribu plus sertifikat. Bukan sebuah prestasi yang menunjukkan kemampuan otak banget sih. Soalnya ‘kan siapa pun bisa mengikuti lomba kayak gini. Tapi, dia yakin akan perkataan Nanda kalau—

“—musik itu bisa menyampaikan segala perasaan yang ada di hati ke tiap orang yang mendengarnya.”

So’ dia menyanyi dengan penghayatan –yang menurutnya- bagus untuk lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu.

ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
meski ku tunggu hingga ujung waktuku
dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
dan izinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejap saja

Sebaris bait terakhir yang dinyanyikannya menutup perform grup bandnya siang itu. Senyum dan beberapa kali bungkukan badan mengiringi ucapan terima kasihnya pada semua mahasiswa yang menonton perform bandnya. Sekarang yang tinggal dilakukan dirinya dan dua teman bandnya adalah berdoa dan berdoa. Tapi khusus Rina, dia harus menguatkan mental lagi untuk pernyataan cintanya ke Chandra ... BESOK!

***

Senyum Rina terkembang. Tas ranselnya nampak berisi dan itu membuatnya senang. Ia juga sudah menyusun rapi rencana untuk pernyataan cintaya hari ini. Ya, semoga aja hasilnya memuaskan, batinnya.

Matahari sudah mulai bergerak semakin ke atas. Tapi, Rina, Ardi, Tama, Nanda, Sarah, Lestari, Dinda dan teman kelasnya yang lain tetap kukuh berdiri menjemur diri mereka untuk mendengar pengumuman pemenang lomba dari kategori Grup Band. Walau sudah ada beberapa dari mereka yang ngga tahan sama panasnya matahari tapi ngga menyurutkan semangat yang lainnya untuk menunggu nama band mereka disebut sebagai juara.

Tapi, Rina dengar dari Reta, salah satu teman sekelasnya yang jadi penanggung jawab lomba Grup Band itu bilang kalau pengumumannya masih lama. Kepotong shalat dzuhur mungkin, katanya. Dan kebetulannya Rina ngga ngeliat batang hidung Chandra dari tadi. Dia tau sih dia harus menghindari pertemuan dengan cowok itu karena rencananya dia dan beberapa teman sekelasnya mau ngasih kejutan ulang tahun ke Chandra. Tapi, kalau ngga sekarang, kapan lagi bilang ‘i love you’ ke Chandra? Apalagi dia dengar akhir – akhir ini Chandra tengah dekat sama cewek lain.

Kalau ditolak yaudahlah gak apa – apa. Yang penting ‘kan udah jujur, gumamnya kemudian pamit sama teman – temannya dengan alasan mau beli minum.

***

“Chan!” serunya sambil berlari ke arah cowok dengan mata agak sipit di bangku panjang taman belakang kampus. Setelah mengitari dan menanyakan beberapa temannya, Rina akhirnya menemukan Chandra duduk manis dengan laptop kesayangannya di taman belakang kampus sendirian. Catat dan garis bawahi! SENDIRIAN!

“Hai! Ciee yang lagi nungguin pengumuman lomba. Santai aja, lo pasti menang kok.” Rina Cuma senyum lima jari sambil ngangguk kecil. Didudukkannya tubuhnya di tempat kosong di sebelah Chandra.

Hening menjadi atmosfer mereka. Chandra sibuk dengan game yang tengah dimainkannya sedangkan Rina sibuk mengatur degupan jantungnya yang berdetak keras secara mendadak.

Gila, gugup banget gue.

“Eng Chan gue—“

“Ya?” Chandra masih sibuk main game tapi Rina tetap bertekad untuk bilang soal isi hatinya detik itu juga.

“Gue mau ngomong nih.” Rina mencengkram bangku kayu yang didudukinya. Detakan jantungnya makin ngga terkontrol.

“Ehm gue juga. Berita bahagia loh!” Rina mengerutkan alis gak ngerti, tapi ia berusaha menutupi ketidakmengertiannya itu dengan ngangguk mempersilahkan Chandra duluan yang cerita.

“Tapi sebelumnya gue minta maaf ya kalau pas datang tadi pagi gue malah langsung cabut ke sini. Ngga ikutan nunggu detik – detik pengumuman pemenang lombanya.” Rina tertegun. Dia juga baru sadar kalau dari tadi pagi emang Chandra ngga ada diantara kumpulan anak kelasnya. Dan satu hal yang dia baru sadar juga kalau—

“Gue sengaja ngelakuin itu untuk bawa Nia ke sini dan—nembak dia.” Ucapnya lirih namun cukup menusuk tepat di jantung Rina.

—Nia juga ngga ada diantara kumpulan anak kelasnya dari tadi pagi.

“Berita baiknya Nia nerima gue dan ternyata dia juga udah suka sama gue sejak lama.” Rina masih tertegun. Shock mungkin. Ntahlah, kalau ditanya, bagaimana perasaannya sekarang? Ia mungkin cuma bisa diam seribu bahasa.

“Rin, lo ngga apa – apa ‘kan?”

“Berarti gossipnya bener dong?” serunya tak sadar.

“Gossip apa?”

“Ah ngga. Maksud gue—“

“RINAAAAA .. KITA MENANG !! BAND KITA MENANG JUARA SATUUU ....” sontak Rina dan Chandra menoleh. Cukup terkejut dengan kehadiran Ardi dan Tama yang berlari ke arah mereka dan langsung menyeret Rina menjauh dari tempat itu.

“Kita menang Rin! Juara satu! Ya Allah gue ngga nyangka. Padahal ini belum kepotong dzuhur loh!” Ardi dan Tama mengoceh panjang lebar tapi Rina tetap menghadapkan kepalanya ke belakang. Melihat Chandra yang tersenyum lima jari padanya. Tapi kepalanya langsung dihadapkan ke depan ketika melihat Nia yang datang dari arah lain dan duduk di sebelah Chandra.

Hasil dari rencananya ngga sesuai harapan ya?, gumamnya sedih dalam hati.

***

Prosesi pemberian hadiah untuk pemenang berjalan cepat. Ntah Rina yang merasa itu memang cepat atau apa, intinya sekarang dia sekarang kembali berdiri dengan mic di tangan kanannya untuk menyanyikan sebuah lagu sebagai persembahan terakhirnya sebagai pemenang juara satu untuk Lomba Band itu.

Matanya menyapu kesegala arah. Memperhatikan satu – persatu wajah teman – temannya, para senior dan beberapa dosen yang kebetulan hadir untuk melihat acara itu. Ia menghela napas, menghilangkan segala kegusaran dihatinya. Atau mungkin mengusir rasa sakit yang tak tampak oleh mata telanjang tiap orang yang menatap kagum padanya saat ini. Sebenarnya ia ingin menangis meraung setelah mendengar pengakuan Chandra beberapa menit lalu, tapi berita kemenangan grup bandnya membuatnya harus bersikap profesional. Jadi, ia akan menyanyikan sebuah lagu untuk mereka yang bangga akan kemenangan bandnya dengan seyum lima jarinya.

“Lagu ini ku persembahkan untuk seseorang yang membuat hidup ku berwarna. Selamat mendengarkan.”

Tabuhan drum mulai terdengar, diikuti petikan gitar setelahnya. Rina mulai mencoba rileks dan masuk ke dalam lagu yang ia bawakan.

Mungkin kita pernah rasa tentang cinta,
Yang takdirnya bukan untuk kita
Mungkin ini adalah cara meluah cinta,
Tanpa berkata atau berpandang mata,

I’m sorry but i love you,
I’m sorry if i miss you,
Even if i can’t have you ,
You know i’ll always be there for you,

Mungkin aku mencintaimu walaupun engkau tak pernah tahu,
Mungkin aku mencintaimu tanpa lelah atau pun jemu,

Mungkin kita tak bersama di takdirkan,
Tak mengapa asal kau bahagia

Biar aku mencintaimu biar tiada siapa yang tahu,
Biar aku mencintaimu dalam diam ataupun bisu,

I’m sorry but i love you,
I’m sorry if imiss you,
Even if i can’t have you,
You know i’ll always be there for you.
I’m sorry but i love you

Najwa Latif – I Love You

Selama ia bernyanyi, matanya tak lepas dari dua sosok itu, Chandra dan Nia. Mereka melihatnya, melihat bandnya perform untuk terakhir kali. Ia merasa fokusnya mengabur karena air mata yang tergenang, tapi ia tak peduli. Yang ada dipikirannya hanya menyanyi dan terus menyanyi hingga bait terakhir dari lagu itu selesai dan terdengarlah tepuk tangan meriah dari mereka yang menonton perform bandnya. Termasuk Chandra dan Nia yang bersama – sama mengacungkan dua jempol mereka untuk bandnya.

***

Pesta kejutan kecil untuk Chandra berhasil. Tawa dari setiap kelas TIK itu membuat suasana taman belakang kampus sore itu menjadi lebih ramai dari biasanya. Wajah Chandra sudah dipenuhi krim kue, tapi tawa tetap terdengar dari mulutnya. Rina tak memedulikan tas ranselnya lagi, ia bahkan tak peduli kalau akhirnya nanti kaus berkerah itu tersimpan rapi di lemarinya atau malah dipakai oleh kakak laki – lakinya. Sekarang yang ia pikirkan hanyalah—

“Happy birthday, Chan. Langgeng ya sama Nia. Ciee .. traktir double dong nih, hehe ...”

—merelakan Chandra, sosok yang membuat hidupnya berwarna untuk salah satu temannya, Nia.

“Thank’s ya. Iya, nanti gue traktir double asal lo juga mau traktir gue pakai hadiah uang hasil lomba itu, haha ..” Rina tertawa, Chandra juga, Nia dan teman – teman kelasnya juga.

Bahagia, biarkanlah rasa itu menyelimutinya saat ini. Biarlah luka itu ia yang rasakan sendiri. Toh cinta ‘kan perlu pengorbanan. Mungkin Allah juga sudah menyiapkan lelaki yang lebih baik untuknya ketimbang Chandra yang sekarang tengah merangkul mesra Nia.

Sakit? Tentu iya. Tapi ia akan lebih merasakan sakit kalau ia memaksakan hati Chandra untuknya.

Sekarang, biarlah ia merasakan yang namanya cinta diam – diam. Seiring waktu yang berlalu, mungkin saja rasa bernama cinta itu akan tertanam di hati yang lain.
                       
END